Selasa, 12 November 2013

KEUTAMAAN MEMULIAKAN TAMU



SATU malam  Rasulullah SAW didatangi seorang tamu yang memerlukan makan. Karena  dirumah isteri beliau tidak terdapat makanan, beliau tawarkan kepada beberapa sahabat untuk menjamunya. Salah seorang sahabat dari kalangan Anshar menerima tawaran tersebut dengan gembira. Maka dibawanyalah tamu itu kerumahnya. Namun karena dirumahnya hanya ada sedikit makanan yang cukup untuk satu orang saja, ia dan isterinya berusaha menyenangkan tamu mereka dengan mengatur siasat.

Sang isteri disuruh berpura-pura memperbaiki lampu, sehingga padam, agar ia bisa berpura-pura makan bersama Sang Tamu dalam keadaan gelap itu. Sang Tamu pun akhirnya bahagia bisa makan dengan puas. Sedang Si Tuan rumah berbahagia karena bisa memberikan kasih sayangnya kepada tamu Rasulullah walau harus menahan lapar sepanjang malam.

Peristiwa itu dilaporkan Jibril As kepada Rasulullah, saking mulianya sikap suami isteri itu. Terkait ini Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang memberi makan kepada orang mukmin sehingga dapat mengenyangkan (menyelamatkan) dari kelaparan,maka Allah akan memasukkanya ke dalam salah satu pintu surga yang tidak dimasuki (oleh orang-orang) kecuali oleh orang-orang yang sepertinya.” (HRThabrani ).

Hadis lain berbunyi “Seorang muslim yang memberi makan kepada saudaranya sampai kenyang, memberi minum sampai hilang dahaganya, dijauhkan oleh Allah dan dipisahkan dari api neraka dengan 7 parit. Lebar antara dua parit sejauh perjalanan 500 tahun“ (HR.Thabrani, Ibnu Hiban,Hakim dan Baihaqi ).

Berbahagianlah rumah seorang mukmin yang sering dikunjungi tamu, sebab Rasulullah saw bersabda “Seorang tamu masuk ke dalam rumah seorang mukmin, maka bersama dia masuklah seribu berkah dan seribu rahmat.” Simaklah. Sebelum tamu masuk ke dalam rumah seorang mukmin, tentu  ia mengucapkan salam. Dengan demikian ia telah mengamalkan salah satu sunnah Nabi SAW. “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam.” Pasti ketika  si tuan rumah menyahut salamnya, kedua wajahnya saling bertatap sambil  mengembangkan seulas  senyum. Terkait ini  Rasul SAW bersabda “Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah.” (HR.Turmuzi, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi ).

Nabi SAW menegaskan “Dua orang Islam yang bertemu lalu berjabat tangan maka dosa kedua orang itu diampuni sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Daud ). Karena itulah Ali bin Abi Thalib diantara sahabat yang  teramat senang menerima dan menjamu tamu. Ali ingat dengan sabda Rasulullah saw “Saya telah diberitahu oleh Jibril apabila ada tamu memasuki rumah saudara sesama muslim, masuklah bersama tamu itu 1000 berkah dan 1000 rahmat. Diampuni dosa penghuni rumah itu oleh Allah walaupun dosanya sebanyak buih dilaut dan sebanyak daun-daun di pohon. Allah mengaruniainya  pahala 1000 syahid. Sedangkan untuk tiap-tiap suap yang dimakan oleh si Tamu tersebut dicatat sebagai pahala haji mabrur dan umrah makbul serta disediakan baginya satu kota di surga. Dan barangsiapa menghormati seorang tamu, ia seakan-akan menghormati 70 Nabi “(Kitab Durratun  Nashihin ).

Satu waktu orang melihat Ali, suami Siti Fatimah ini menangis. Ketika ditanya sebabnya, Khalifah keempat ini menjawab “Sudah satu minggu tidak ada seorang tamu pun datang kepadaku. Aku khawatir Allah senang menghinakan aku.” Imam Ali Zainal Abidin RA bila ada tamu yang datang, ia nampak bergembira sambil berkata “Selamat datang orang yang mau membawa bekal saya di akhirat.”

Lain lagi sikap Umar bin Khattab RA. Bila  ada tamu yang datang kerumahnya, beliau berdiri menyambutnya. Ketika ditanya alasannya beliau menjawab “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda ‘Para  malaikat berdiri di rumah yang ada tamunya “.Generasi salaf sangat senang memberi makanan daripada mengerjakan beberapa ibadah sunah baik dengan mengenyangkan perut orang yang kelaparan atau memberi makan orang saleh.Misalnya salah seorang dari generasi salaf berkata “ Sungguh, mengundang  10 sahabatku lalu memberi makanan yang mereka senangi, itu lebih aku sukai  daripada memerdekakan sepuluh anak keturunan Nabi Ismail “.Muhammad bin Al Munkadir berkata “ Diantara perbuatan yang mengharuskan  diampuninya dosa ialah memberi makan kepada Muslim yang lapar .

Setiap kali Siti Fatimah menemui  Nabi Muhammad SAW  ayahnya, beliau selalu menyambut dan mencium kepalanya. Wallahualam.**

Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah memberikan komentar di web ini. Semoga membantu dan bermanfaat.