Senin, 25 November 2013

Gunung Lawu dan Sindoro Bisa Aktif Lagi

Balai Penyelidikan dan
Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi
(BPPTKG) Jogja memperingatkan penduduk yang
tinggal di sekitar gunung yang telah lama
dinyatakan tidak aktif agar waspada.
“Dalam ilmu kegunungapian, tak ada jaminan
gunung berapi mati. Suatu saat, tidak tahu
kapan, bisa aktif kembali,” ujar Kepala BPPTKG
Subandriyo saat ditemui, di
kantornya, Kamis (22/11/2013).
Buktinya, Gunung Sinabung di dataran tinggi
Karo, Sumatera Utara, yang sudah tidur 400
tahun kembali meletus pada September lalu.
Gunung Sinabung merupakan gunung api tipe B.
Gunung api tipe B adalah gunung api yang
dinyatakan tidur atau tidak aktif sejak tahun
1.600.
Hal serupa, lanjut Subandriyo, juga pernah
terjadi pada Gunung Pinatubo, Filipina. Gunung
tersebut selama 600 tahun tercatat tidak
pernah memiliki kegiatan vulkanik apapun.
Namun pada Juni 1991, gunung itu bangkit lagi.
Gunung api dengan tipe yang sama di Jawa
Tengah, yakni Gunung Lawu di Karanganyar.
“Gunung-gunung itu dalam geologi masuk dalam
kategori gunung muda. Gunung muda, mungkin
bisa aktif kembali,” ujarnya.
Di Gunung Lawu, menurut Subandriyo, aktivitas
yang masih bisa dirasakan adalah terdapatnya
bau belerang. Ketika berada di atas gunung di
puncak Argodumilah, di bawah puncak itu
terdapat tanah lapang. “Tanah lapang itu dulu
adalah kawah Gunung Lawu.”
Kendati begitu, ia mengatakan atas kondisi
terakhir gunung tersebut belum
dipantaunya.Saat ini Gunung Sindoro yang juga
berada di Jawa Tengah, yang menjadi pantauan
BPTTKG setelah terdeteksi munculnya aktivitas
pergempaan dua tahun lalu. Cuma, tingkat
aktivitas gunung tersebut tidak seperti Merapi
dan belum terdeteksi adanya pergerakan
magma. Terakhir, Gunung itu sempat muncul
asap sulfatara. Alasan aktivitas yang tidak
berakhir dengan erupsi itu masih ditelitinya.
Sekarang ini, aktivitas penduduk di sekitar Lawu
dan Sindoro berdekatan dengan gunung. Mereka
penduduk di sekitar Sindoro hingga ke kawasan
atas gunung untuk menanam tembakau, seperti
halnya di Temanggung dan Wonosobo. Sedangkan
di Gunung Lawu, penduduk bertanam sayuran.
Menurut dia, perlu sosialisasi ancaman bencana
bagi penduduk di dua gunung itu yang diberikan
oleh pemerintah daerah setempat. “Tapi,
mitigasi bencana di dua gunung itu belum
seintensif Gunung Merapi,” katanya.

Artikel Terkait

2 komentar:

Terimakasih telah memberikan komentar di web ini. Semoga membantu dan bermanfaat.