Sabtu, 30 November 2013

Sejarah Pendidikan Indonesia

25 November adalah Hari Guru. Karenanya, kita akan menengok teladan yang diberikan tokoh pendidikan terpenting Indonesia. Ki Hadjar Dewantara adalah pendiri Perguruan Tamansiswa dan juga Menteri Pendidikan, Pengajaran dan
Kebudayaan Republik Indonesia yang pertama.
Nama asli Ki Hadjar Dewantara adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat, lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Ayahnya, Pangeran Suryaningrat, adalah putra sulung dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam III, raja agung Paku Alaman di Yogyakarta. Sang kakek, Paku Alam III, amat keras menentang penjajahan. Karena itu, ketika ia meninggal pada 1864, Pemerintah Belanda tak menyerahkan tahta kerajaan kepada Pangeran Suryaningrat dan keturunannya. Pangeran Suryaningrat dan keluarga diberi sebuah puri untuk tempat tinggal dan harus hidup di luar istana. Karena hidup di luar istana, Suwardi terbiasa bergaul dengan rakyat jelata.
Namun begitu, sebagai seorang bangsawan, Suwardi tetap diberi kesempatan sekolah di Europeesche Lagere School atau sekolah dasar yang sebetulnya dikhususkan bagi orang Eropa. Pengalaman ini rupanya memberi Suwardi kecil pelajaran tentang ketidakadilan. Ia melihat teman-temannya dari kalangan jelata tak boleh bersekolah, tak seberuntung dirinya.
Memasuki masa dewasa, Suwardi sempat melanjut pendidikannya ke Sekolah Dokter Bumiputera atau STOVIA. Akan tetapi, karena sempat sakit, ia tak pernah menamatkan pendidikan dokternya. Ia kemudian memilih bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar; seperti Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja
Timoer serta Poesara. Lelaki muda ini merupakan penulis handal yang artikelnya dikenal komunikatif dan tajam. Satu lagi ciri khasnya: Ia sangat anti penjajahan, sebagaimana kakeknya. Aktif di Pergerakan Selain aktif di dunia jurnalistik, Suwardi menerjunkan diri dalam organisasi sosial dan politik. Ia tergabung di seksi propaganda Boedi Oetomo dan bertugas menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Suwardi ikut mengorganisir kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta. Pada 1931, Pemerintah Hindia Belanda
berencana mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kaum nasionalis menolak keras rencana tersebut. Suwardi menulis sebuah kolom yang akan menjadi sangat terkenal, “Als ik een Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Ia menulis : ”Seandainya aku seorang
Belanda, aku tak akan menyelenggarakan pestakemerdekaan di negeri yang telah kita sendiri rampas kemerdekaannya.”
Akibat kritik pedas tersebut, Suwardi ditangkap dan akan diasingkan ke Pulau Bangka. Namun, dua temannya, yakni Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes keras rencana tersebut. Akhirnya, mereka bertiga sekaligus
diasingkan ke Belanda. Ketiga tokoh ini kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Mereka kompak ikut berjuang demi kemerdekaan Indonesia.
Di Belanda, Suwardi bergabung di Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) yang menghimpun para pelajar asal Indonesia.Namun begitu, waktunya lebih difokuskan untuk merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan
belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, sebuah ijazah pendidikan yang bergengsi. Di bangku kuliah, Suwardi berkenalan dengan gagasan sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori. Ia juga
memperdalam gerakan pendidikan di India, yakni Santiniketanyang dikembangkan keluarga Tagore.
Mendidik Kaum Jelata Setelah enam tahun di Belanda, Suwardi akhirnya diperbolehkan kembali ke Indonesia, pada bulan September 1919. Ia kemudian memilih bergabung ke sebuah sekolah yang dibina oleh salah seorang saudaranya. Ia hendak mempertajam ilmu pendidikannya dengan langsung terjun ke kelas-kelas.
Pada 3 Juli 1922, Suwardi mendirikan sekolahnya sendiri, yakni Perguruan Nasional Tamansiswa. Sekolah ini terbuka bagi kaum pribumi yang bukan berasal dari kalangan ningrat. Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, Suwardi mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak mau lagi menggunakan gelar kebangsawanan. Perubahan nama ini bertujuan membebaskan diriagar dapat dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.
Semboyan pendidikan Tamansiswa adalah “ing Sejarah Pendidikan Indonesia ngarso sung tulodo , ing madyo mangun karso, tut wuri handayani ” (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan). Melalui Tamansiswa, Ki Hajar Dewantara dengan tekun mendidik rakyat Indonesia dari generasi ke generasi agar maju
dan memiliki jiwa-jiwa merdeka.
Ketika Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945, tugas membangun sistem pendidikan di negara yang baru lahir ini—dan terutama memberantas buta huruf–diserahkan kepada Ki Hajar Dewantara. Ia diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaanyang pertama. Ketika itu, usianya sudah 57 tahun, terbilang tua di antara pemimpin Indonesia lainnya.
Ki Hajar Dewantara meninggal di Yogyakarta pada 26 April 1959. Dua tahun sebelumnya, ia mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, melalui Surat Keputusan Presiden, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan hari kelahirannya,2 Mei, dijadikan Hari
Pendidikan Nasional.
Pelajaran dari Ki Hajar Dewantara Ki Hajar Dewantara memiliki hati yang peka. Sejak kecil, meski berasal dari kalangan ningrat, ia mampu memahami ketidakadilan yang dialami rakyat jelata. Pengalaman ini menumbuhkan semangat untuk melakukan perubahan, membebaskan rakyat kecil dari kebodohan dan mengembalikan hak-hak mereka yang dirampas.
Tokoh ini juga dikenal pemberani. Ia berjuang melalui coretan-coretan penanya yang tajam menentang penjajahan. Meski berakibat harus menjalani hukuman pembuangan, Ki Hajar Dewantara tak pernah gentar. Selain itu, ia terus berpikiran positif. Masa-masa di pembuangan dimanfaatkannya untuk menimba ilmu guna kemudian diterapkan ketika sudah bebas kembali.
Pelajaran lain yang bisa kita petik adalah prinsip pendidikannya, yang sebetulnya adalah prinsip kepemimpinan: “ ing ngarso sung tulodo , ing madyo mangun karso, tut wuri handayani ”(di depan memberi contoh, di tengah memberi
semangat, di belakang memberi dorongan). Melalui prinsip ini, kita paham bahwa, melalui sekolah-sekolahnya, Ki Hajar Dewantara sebetulnya tengah menyemai pemimpin-pemimpin baru Indonesia.

Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah memberikan komentar di web ini. Semoga membantu dan bermanfaat.