Kamis, 15 Mei 2014

KEMEROSOTAN MORAL ANAK SALAH SIAPA ?

KEMEROSOTAN MORAL ANAK SALAH SIAPA ?


Zemanta Related Posts ThumbnailKurikulum apapun yg diterapkan,pelatihan apapun yg diberikan akan percuma ketika system dan undang undang direpublik ini tidak berjalan..guru disekolah mengajarkan kelembutan selama 45 menit,.anak dirumah melihat sinetron atau film kekerasan selama 5 jam,.di sekolah guru menanamkan nilai kesopanan..dirumah dengan begitu mudah siswa menyaksikan ketidaksusilaan selama berjam jam...guru diperketat dngan undang guru dan dosen serta pp..sementara tingkah laku anak terlindungi oleh uu perlindungan anak. tingkat kemerosotan moral terbukti berasal dari media masa akibat unsur pendidikan tidak menjadi dasar dalam undang undang penyiaran...terlalu naif mentri pendidikan menyudutkan guru dalam hal ini bertindaklah responsible seperti jendral kopasus..bahwa "TIDAK ADA KOPRAL YANG SALAH MELAINKAN JENDRAL YANG SALAH"


Bagaimana Seperti yang di sampaikan Jokowi Seperti di di bawah ini :


Di sektor pendidikan, Jokowi menekankan pada revolusi mental. Menurutnya, revolusi mental akan efektif bila diawali dari jenjang sekolah, terutama pendidikan dasar. Menurutnya, siswa SD seharusnya mendapatkan materi tentang pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, pendidikan etika sebesar 80 persen. Sementara itu, ilmu pengetahuan cukup 20 persen saja.


"Jangan terbalik seperti sekarang. Sekarang ini anak-anak yang kecil dijejali dengan Matematika, Fisika, Kimia, IPS. Sehingga yang namanya etika, perilaku, moralitas tidak disiapkan pada posisi dasar," kata Jokowi.

Menurut Jokowi, porsi materi ilmu pengetahuan diperbesar pada tingkat SMP. Meski porsi ilmu pengetahuan diperbesar, Jokowi mengatakan, materi pendidikan karakter, budi pekerti, dan etika harus lebih besar. Ia menggambarkannya dengan persentase 60-40 persen untuk pendidikan karakter.

Jokowi mengatakan, porsi besar untuk materi tentang ilmu pengetahuan baru diberikan di jenjang SMA. Besarnya, kata dia, mencapai 80 persen. Pada tahap SMA, porsi untuk pendidikan karakter, budi pekerti, dan akhlak cukup 20 persen saja.

Selain itu, ia juga ingin meningkatkan jumlah SMK. Menurutnya, negara-negara industri maju seperti Jepang, Korea, dan Jerman adalah negara-negara yang punya banyak SMK.

"Peningkatan jumlah SMK adalah salah satu yang penting. Karena keterampilan semua ada di sana. Karena di situ ada teknologi, di situ ada keterampilan, di situ ada skill yang dibangun," ucap Jokowi.

Ia yakin, jika semua hal di atas dilakukan, akan muncul generasi yang memiliki sikap mental dan budaya kerja yang baik, serta penuh daya saing, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas bagi bangsa dan negara.

"Karena percuma kekayaan alam yang besar jika tidak dibarengi dengan produktivitas, serta daya saing bagi SDM yang ada di dalamnya. Tanpa revolusi mental, tanpa budaya kerja yang sudah tertanam sejak kecil, saya kira sulit juga untuk membangun sebuah daya saing dan produktivitas," papar Jokowi.
Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah memberikan komentar di web ini. Semoga membantu dan bermanfaat.