Profile Penulis

Dalam sebuah perjalan setiap orang pasti mempunya cerita suka dan duka. kami sedikit menyampaikan sekilas perjalanan hidup kami agar dapat menjadi motovasi peserta didik dan orang lain. Sebuah kisah nyata yang benar benar terjadi dan kami alami.

Sholat Berjamaah

Selain menjarkan tentang materi pendidikan seorang guru juga di tuntuk untuk mengajarkan kebiasaan yang baik tentang keagamaan. Dengan membiasakan anak sholat berjamaah di masjid akan membentuk karakter anak yang baik.

Pembelajaran Berbasis Tehnologi dan Informasi

Perkembangan tekhnologi di dunia ini semakin cepat. Seorang pendidikan di wajibkan mengikutu perkembangan tekhnologi pendidikan khusus nya dalam pengajaran.Manfaat menggunakan tehnologi pendidikan sangat banyak sekali

Pembelajaran Pendekatan Saintifik

Untuk meningkatkan prestasi siswa siswi banyak sekali pendekatan dan metode pembelajaran yang di gunakan. Salah satu pendekatan yang kami gunakan yaitu pendekatan Saintifik. Pembelajaran pendekatan Saintifik yaitu kegiatan yang dilakukan melalui proses mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

Pendampingan Bakat dan Minat

Dalam sekolah/ pendidikan walau status kita bukan seorang guru olah raga kita boleh membantu guru olah raga untuk meningkatkan kelebihan kepada siswa kita. salah satunya asalah dengan memberikan tehnik tehnik bermain sepak bola. dalam memberikan tehnik tentunya kita harus berkoordinasi dengan guru sepak bola untuk bisa saling berkolaborasi.

Friday, April 15, 2022

Budi Pekerti Menurut Ki Hajar Dewanatar KHD

 


Budi Pekerti Menurut Ki Hajar Dewanatar KHD

Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Sedih merupakan perpaduan harmonis antara cipta dan karsa demikian pula Bahagia.

Lebih lanjut KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual). Keluarga juga menjadi ruang untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan pusat pendidikan lainnya.

Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk berinteraksi sosial antara kakak dan adik sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak saling belajar antar satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, Peran orang tua sebagai guru, penuntun dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.

Kodrat Alam dan Kodrat Zaman Menurut Ki Hajar Dewantara KHD

 


Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

KHD menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”

KHD mengelaborasi Pendidikan terkait kodrat alam dan kodrat zaman sebagai berikut

Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21)

KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. KHD mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.


Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

 



Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009),  pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

Dasar-Dasar Pendidikan Pemikiran Ki Hajar Dewantara


 

Dasar-Dasar Pendidikan

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat  menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan  tumbuhnya kekuatan kodrat anak”

Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani.  Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.

Dalam proses ‘menuntun’ anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.

Pemikiran Kihajar Dewanatara

Bagaimana sih pemikiran kihajar dewanatara itu ? yuk kita bahas




Ki Hajar Dewantoro (KHD) sejak kecil yaitu filosofi Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tutwuri Handayani. Dulu saya saya pahamnya cuma yang Tut Wuri Handayani. Intinya jadi murid harus nurut sama gurunya. Akhir akhir ini saya mencerna cerna sendiri. Ternyata ketika kita jadi guru itu diibaratkan seperti Ing Ngarso Sung Tulodho. Ketika di depan jadi pemimpin, kita harus bisa jadi teladan bagi siswa dan bagi guru yang lainnya. 

Kemudian ketika kita di tengah tengah siswa maupun komunitas guru, maka kita harus bisa banyak karya, harus bisa kerjasama, harus bisa saling memotivasi.

Akhir akhir ini saya mendengar pemikiran KHD muncul kembali. Terutama dalam masalah merdeka belajar, dan pengajaran yang berpusat pada siswa. 

Untuk merdeka belajar intinya bagaimana membuat anak sejahtera dalam belajar. Bisa maksimal berkarya, kritis, dan kreatif, tanpa ada tekanan. Percaya diri dalam menyampaikan ide idenya. Kemudian mendapatkan guru yabg selalu menghargai karya karyanya. 

Sedangkan yang berpusat pada siswa berarti guru harus menskenario ulang. Jangan sampai guru dominan berbicara dalam pembelajaran. Guru harus banyak melibatkan siswa bahkan banyak memberi kepercayaan pada siswa. Tetapi tetap dengan pembimbingan yang terstruktur. 

Pemikiran KHD ini sangat relevan dengan pembelajaran abad 21 Yang menuntut adanya kolaborasi, komunikasi, kritis, dan kreatif. Jika pendidikan berpusat pada siswa maka 4 hal tersebut akan mudah dimiliki oleh siswa. 

Setiap orang yang memilih dunia Pendidikan menjadi pilihan hidupnya yaitu menjadi guru tentu sangat mengenal nama RM. Soewardi Soerjaningrat atau yang dikenal dengan Ki Hajar Dewantara, sosok inspiratif di dunia Pendidikan Indonesia. Melalui pemikiran beliau yang sangat maju yaitu Pendidikan harus memerdekakan kehidupan manusia. Pendidikan yang harus di sandarkan pada pembentukan jiwa merdeka dan bermafaat bagi masyarakat. Kemerdekaan sebagai syarat dan tujuan membentuk kepribadian dan kemerdekaan batin bangsa Indonesia agar para murid selalu tegak berdiri membela perjuangan bangsanya, hal ini dikarenakan kemerdekaan menjadi tujuan pelaksanaan Pendidikan sehingga sistem pengajaran harus bermanfaat bagi pembangunan jiwa dan raga bangsa, untuk itu menurut Ki Hajar Dewantara bahan-bahan pengajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan hidup rakyat, Pendidikan bukan sebagai pemaksanaan namun harus berdasar pada tertib dan damai, tata tenteram dan kelangsungan batin, cinta tanah air dan nasionalisme menjadi prioritas. Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang. Karakter yang kuat dan budi pekerti yang luhur dan buah piker untuk maju adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar Pendidikan dapat meningkatkan kualitas dan memajukan kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan yang selaras dengan perkembangan dan kemajuan jaman dengan tanpa meninggalkan jiwa kebangsaan. Perkambangan dunia yang pesat dan cepat serta pergaulan hidup antar bangsa dengan bangsa lainnya tidak dapat terelakkan. Kebudayaan asing yang berasal dari luar semakin mungkin untuk masuk berakulturasi dengan kebudayaan nasional. Oleh karena itu sebagaimana yang disampaikan Ki Hajar Dewantara hendaklah sebagai anak bangsa kita harus memilah dan memilih mana yang baik untuk menambah kualitas dan kemuliaan hidup dan mana budaya asing yang akan merusak identitas dan jiwa rakyat Indonesia dengan selalu mengingat bahwa semua kemajuan di bidang ilmu pengetahuan harus berorientasi pada pembangunan martabat bangsa. Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara pada sisi kehidupan psikologinya, bahwa manusia memiliki daya jiwa yaitu adanya cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang hanya menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan perkembangan manusia yang tidak utuh. Bahwa Pendidikan yang menenkankan pada aspek intelektual saja hanya akan menjauhkan murid dari masyarakatnya. Dan ternyata Pendidikan sampai sekarangpun hanya menekankan pada pengembangan daya cipta dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Apabila terus berlanjut maka akan menjadikan manusia yang kurang humanis atau manusiawi.

Pendidikan yang teratur adalah yang bersandar pada perkembangan ilmu pengetahuan atau ilmu pendidikan. Ilmu ini tidak boleh berdiri sendiri, ada saling hubungan dengan pengetahuan lain. Ilmu harus berfungsi sebagai pelengkap sempurnanya mutu pendidikan dan pembangunan karakter kebangsaan yang kuat.

Dalam menyelenggarakan pengajaran dan didikan kepada rakyat, Ki Hajar menganjurkan agar kita tetap memperhatikan ilmu jiwa, ilmu jasmani, ilmu keadaban dan kesopanan (etika dan moral), ilmu estetika dan menerapkan cara-cara pendidikan yang membangun karakter.

Seorang pendidik yang baik, kata Ki Hajar Dewantara, harus tahu bagaimana cara mengajar, memahami karakter peserta didik dan mengerti tujuan pengajaran. Agar dapat mewujudkan hasil didikan yang mempunyai pengetahuan yang mumpuni secara intelektual maupun budi pekerti serta semangat membangun bangsa.

Pendidikan nasional saat ini memiliki segudang persoalan. Mulai dari wajah pendidikan yang berwatak pasar dan menyebabkan hilangnya daya kritis tenaga didik terhadap persoalan bangsanya, hingga pemosisian lembaga pendidikan sebagai sarana menaikkan strata sosial dan ajang mencari ijazah belaka.

Di samping itu, kandungan pendidikan dan pengajaran sekarang ini tidak memuat nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan kini hanya melahirkan sikap individualisme, hedonisme dan hilangnya jiwa merdeka. Hasil pendidikan seperti ini tidak dapat diharapkan membangun kehidupan bangsa dan negara bermartabat.

Nah, di sinilah relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara di bidang pendidikan: mencerdaskan kehidupan bangsa hanya mungkin diwujudkan dengan pendidikan yang memerdekakan dan membentuk karakter kemanusiaan yang cerdas dan beradab.


Gagasan pendidikan dari KH Dewantoro yang berkaitan dengan pendidikan di Indonesia yang menurut pendapat saya yang masih  relevan  untuk  pendidikan di Indonesia saat ini adalah  TRILOGI Kepemimpinan(Ing Ngarsa Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani) dan TRINGA (Ngreti, Ngrasa, Nglakoni).

Relevansi pemikiran dengan Pendidikan saat ini menggunakan TRILOGI Kepemimpinan adalah  Trilogi kepemimpinan akan melahirkan calon-calon pemimpin bangsa ini yang berkarakter membimbing dengan keteladanan (Ing ngarsa sung tuladha) membina dengan membangun kemauan (Ing madya mangun karsa) memerdekakan untuk berkreativitas dengan tetap memberi kekuatan (Tutwuri Handayani). Jadi pendidik hanya melakukan Tut Wuri Handayani, kecuali masalah-masalah yang dihadapi anak didik tersebut membahayakan dirinya sendiri, baru pendidik mengambil alih tindakan terhadap permasalahan-permasalahan tersebut. Alasan diterapkannya TRINGA adalah sesuai dengan penerapan Kurikulum 2013 yang menekankan pada pandangan afektif, kognitif, dan psikomotor sesuai dengan trilogy ini, yaitu:

Ngreti = memahami dengan akal / pikiran / koqnitif.

Ngrasa = menghayati dengan perasaan / afektif.

Nglakoni = mengamalkan dengan perbuatan / psikomotor Ilmu yang dipelajari akan bermanfaat bila sudah diamalkan (ilmu iku kasiyate kanthi laku).